By / 26th Oktober, 2016 / Wisata / No Comments

Gunung Bromo dan Suku Tengger

Suku Tengger merupakan suku asli yang mendiami wilayah dataran Gunung Bromo dan Semeru yang meliputi Kabupaten Lumajang, Probolinggo, Malang, dan Pasuruan Provinsi Jawa Timur. Warga suku Tengger biasa disebut dengan “Orang Tengger”. Identitas budaya dan adat istiadat suku Tengger tidak banyak dikenal. Namun Suku Tengger atau orang Tengger bukanlah suku primitif ataupun suku terasing atau suku lain yang bereda dari suku Jawa.

Populasi suku Tengger saat ini diperkirakan pada angka 500.000 jiwa ( wikipedia ). Seperti halnya suku – suku asli di Indonesia, suku Tengger juga tak memiliki referensi yang memadai untuk menemukan kembali budaya dan jatidirinya. Oleh karenanya mereka hanya berpatokan pada sumber – sumber budaya setempatnya. Anehnya upaya orang Tengger menemukan kembali budayanya baru mulai menunjukkan titik terang saat adanya gerakan reformasi Hindu pada  sekitar tahun 1980-an.

 

Profil dan Sejarah Orang Tengger 

Masyarakat Tengger tergolong sebagai sosok yang ramah dalam kesederhanaannya. Mereka sangat menghargai dan menghormati tamu baik Lokal maupun Mancanegara yang berkunjung ke wilayahnya. Dalam kesehariannya orang Tengger selalu berupaya menjaga keserasian antara pribadinya dengan Dewa, roh halus dan roh leluhur mereka yang sangat mereka yakini masih ada di sekitar mereka. Karena bila hal tersebut tak dilakukannya maka mereka percaya bahwa bencana akan menimpa mereka.

Kata Tengger berasal dari perpaduan 2 suku kata terakhir tokoh legendaris yang dianggap sebagai leluhur mereka yakni Rara Anteng dan Jaka Seger. Rara Anteng diyakini sebagai putri Prabu Brawijaya V, Raja Majapahit terakhir jelang runtuhnya kerajaan Hindu terbesar tersebut. Rara Anteng diungsikan ke pegunungan Tengger karena kerajaan Majapahit mendapat serangan dari Demak. Sementara itu Jaka Seger diyakini sebagai anak seorang Brahmana yang sedang melakukan samadhi di pegunungan tersebut.

Menurut informasi dari pewaris aktif tradisi lisan orang Tengger (Dukun Tengger), mereka yang disebut sebagai orang Tengger adalah keturunan dari para pengungsi Majapahit. Hal itu mereka pertegas dengan kisah Rara Anteng dan Jaka Seger yang hingga sekarang diyakini sebagai asal – usul orang Tengger.

Rafles dalam bukunya The History of Java mengakui kesederhanaan, kekhasan dan kebaikan orang Tengger. Orang Tengger juga selalu hidup damai, rukun, teratur, tertib, jujur, rajin bekerja dan selalu gembira. Namun fakta unik suku Tengger, mereka tidak mengenal judi, candu, kejahatan, perzinahan serta jenis – jenis kejahatan yang lain.

Saat ini orang Tengger secara administratif terbagi menjadi beberapa kelompok yaitu orang Tengger Probolinggo, orang Tengger Pasuruan, orang Tengger Malang dan orang Tengger Lumajang.

 

Mata Pencaharian

Mata Pencaharian Orang Tengger sebagian besar adalah sebagai petani. Ada yang petani penggarap dan ada juga buruh tani. Hasil pertanian yang mereka geluti adalah sayur mayur. Selain petani ada pula sebagian kecil orang Tengger yang bergerak di bidang perdagangan dan jasa pariwisata (menyewakan jeep, menjual souvenir, menyewakan kuda). Anehnya fakta unik suku Tengger meskipun mereka berdagang dan bergerak di jasa wisata itu semua hanyalah kerja sampingan saja dari pekerjaan pokok mereka bertani.

 

Keyakinan Orang Tengger

Karena meyakini sebagai keturunan pengungsi Majapahit, maka saat ini sebagian besar orang Tengger menganut keyakinan agama Hindu. Sebagian besar orang di luar suku Tengger mengakui bahwa orang Tengger merupakan keturunan pelarian Majapahit. Menurut data historis dan antropologis, orang Tengger sejak dahulu sudah beragama Hindu. Berbagai prasasti – prasasti dan pennggalan kuno yang ditemukan di wilayah dataran tinggi Tengger menunjukkan data tersebut. Selain itu japa mantra orang Tengger yang sampai saat ini diwarisi Dukun Tengger secara tak terbantahkan mengandung unsur Hinduisme.

Anehnya meskipun mengakui sebagai orang Hindu fakta unik suku Tengger masih mempertahankan tradisi keagamaan yang memuja Dewa penjaga Gunung Bromo, sebuah peribadatan suci dan percayai sebagai warisan dari nenek moyang mereka.

 

Panutan Orang Tengger

Orang Tengger menganggap orang yang menjadi panutannya dengan sebutan Dukun Tengger. Dukun Tengger mempunya tugas dan peran memimpin semadi, upacara agama, upacara adat, dan sebagai juru penerang agama Hindu.

Dukun -dukun tersebut diangkat melalui sebuah ujian Dukun dan disaksikan oleh warga dan dukun dari seluruh desa Tenggerpada saat berlangsungnya upacara Kasada yang diselenggarakan di Poten, Laut pasir kaki Gunung Bromo.

Dukun – dukun tersebut merupakan pewaris alat – alat ritual dan doa – doa peribadatan dari para dukun pendahulunya. Dukun – dukun yang sekarang menjabat berasal dari keturunan langsung dukun sebelumnya atau keponakan dari pihak ayah atau ibu.

Seseorang diangkat sebagai dukun setelah memenuhi persyaratan antara lain:

  1. Memiliki pengetahuan yang luas dan mengenali tradisi Tengger, terutama tradisi lisannya.
  2. Disetujui oleh masyarakat Tengger melalui musyawarah.
  3. Direstui dan diangkat oleh pemerintah daerah terkait.

Dukun – dukun Tengger sekarang ini memiliki pendidikan resmi dan dapat berbahasa Indonesia dengan baik. Jumlah mereka lebih kurang 40 orang dan yang biasa menghadiri perayaan Kasada sebanyak 28 orang.

 

Tradisi Unik Orang Tengger

Orang Tengger mempunyai banyak tradisi unik atau upacara adat. Dalam keyakinan mereka ritual adat bukan hanya warisan budaya leluhur yang harus dipelihara dan dijaga tetapi juga penanda identitas yang harus dilestarikan.

Dalam tradisi Tengger ada 2 upacara besar yaitu :

  1. Upacara Kasada atau perayaan Kasada atau hari raya Kasada, atau Kasodoan yang sekarang disebut Yadnya Kasada. Upacara Kasada merupakan  hari kurban sebagai wujud pelaksanaan amanah dari leluhur mereka Roro Anteng dan Joko Seger yang telah rela mengorbankan dirinya demi kesejahteraan dan keselamatan ayah, ibu serta para saudaranya. Upacara Kasada dilaksanakan setahun sekali pada tanggal 14, 15 atau 16 bulan Kasada. Pada saat itu bulan punama sedang menampakkan wajah penuhnya. Perayaan Kasada sudah menjadi legitimasi budaya dan komunikasi budaya yang efektif antara orang Tengger Lumajang, Probolinggo, Pasuruan dan Malang. Selain itu upacara Kasada juga memberitahu kepada orang luar Tengger bahwa orang Tengger meskipun tinggal terpisah namun secara tradisi, adat dan budaya mereka adalah satu kesatuan yang utuh dan memiliki identitas budaya serta warisan keagamaan yang sama.
  2. Upacara Karo atau perayaan Karo orang Tengger dilaksanakan pada bulan ke-2 kalender Tengger. Upacara ini mirip dengan perayaan Lebaran dimana pada hari tersebut orang Tengger saling kunjung – mengunjungi untuk mengucapkan selamat hari raya Karo dan saling bermaaf – maafan. Berbagai hidangan khas Tengger disediakan oleh orang Tengger. Mereka menyembelih hewan ternak dan memasak sayur mayur hasil kebun mereka. Bagi yang tidak mampu, pengadaan ternak yang akan disembelih dilakukan secara gotong royong. Bagi orang Tengger perayaan Karo adalah hari yang ditunggu – tunggu oleh mereka. Durasi perayaan Karo cukup lama sekitar 2 minggu mereka rayakan dengan penuh suka cita, pesta pora, seolah – olah orang Tengger ingin menebus seluruh kecapekan dan kejenuhan kerja yang telah dijalaninya selama satu tahun.

Selain 2 upacara besar diatas masih banyak lagi upacara adat yang lain seperti perkawinan, kelahiran, kematian dan lain – lain. Dalam setiap upacaa adat tersebut dukun Tengger selalu membacakan doa yang mereka sebut puja mantra.

Fakta unik Suku Tengger yang lainnya adalah hingga saat ini Tengger tercatat sebagai wilayah yang angka kriminalitasnya hampir nihil. Anehnya hampir di semua wilayah orang Tengger jarang sekali terjadi tindak kriminalitas.

Hal ini tentunya merupakan kabar baik bagi anda yang ingin berwisata ke Gunung Bromo, karena kita tak akan khawatir mengalami kejadian pencopetan, perampasan ataupun kriminalitas lainnya yang biasa terjadi di daerah – daerah tujuan wisata. ( AnehnyaDunia.com )

 


Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.